Kutipan dari buku sajadah Nabi di
Langit Melbourne
Saat mondok di pompes MIftahul Jannah,
Ust. Pernah mengisahkan cerrita yang membuat dadaku tertuusuk, getir dan
menghantamku bertubi-tubi. Apa yng kamu lakkukan jika orang yang kamu cintai
diolok-olok pertanyaan ang tidak akan terjawab benar, kecuali oleh mereka yg
memahami hakikat cinta.
Bukankah Nabi SAW ketika hijrah ke
Thaifmendapat perlakuan yang memilukan? Perlakuan orang-orang Thaif yang tidak
bisa ditolerir. Mereka tak ubahnya keledai dungu, tuli saat kebenaran diserukan.
Bahkan, batu-batu dan kotoran beterbangan melepari Nabi saw. Dengan ganasnya.
Pernakah mendengar kisah bahwa di
sebuah pasar Madinah, telah lama dudu seorang Yahudi sambil mengemis, sedangkan
matanya tak dapat melihat alias buta.orang itu sangat membenci islam. Ia selalu
engiklankan sang pelopor penyebaran Islam, Muhammad dengan kata-kata kotor
pemicu radikalisme Ummat Islam yang mendengarnya.perkataan yang memerahkan
telinga, membakar wajah dan mencabik nurani. Setiap orang yang mndekatinya akan
diberikan nasihat bahwa jiwa Muhammad saw. Adalah orang gila, pendusta dan ahli
nujum.
Nai saw. Setiap hatri tahu ucapan-ucpan
tk berarti it uterus menyebar. Sambil membawa makanan setiap pagi beliau
mendatangi dan menyuakan ke dalam mulunya. Sampai kapan? Ampai beliau wafat.
Abu Bakar diberi tahu Aisya jika Nabi
saw. Melakukan perbuatan itusetiap hari hingga Abu Bakar ingin menirunya.ketika
tangan Abu Bakar menyuapkan makanan ke mulutnya, si Yhudi protes. Iaa tahu bahw
orang yang selalu memberinya makan bukanah dirinya. Ia marah dan mebentak.
Orang yang biasa mendatanginya, sebelum menyuap makanan, terleih dahulu
dihaluskan dengan mulutna setelah itu dia berikan dengan mulutnya sendiri,
orang itu begitu halus budinya.
Abu Bakar tidak mampu menahan tangis
mendayu, kemudianmenceritakan bahwa orang mulia itu telah tada. Ia adalah
Muhammad, Rasulullah saw.
Pengemis kaget, seperti bayi yang
kehilangan ibunya, merengek, menangis. Ia selalu menghina dan menfitnahnya,
tapi nabi tidak pernah merasa marah sedkit pun. Ia begitu mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar