Sabtu, Mei 30, 2015

Sajadah Nabi di Langit Melbourne

Kutipan dari buku sajadah Nabi di Langit Melbourne
Saat mondok di pompes MIftahul Jannah, Ust. Pernah mengisahkan cerrita yang membuat dadaku tertuusuk, getir dan menghantamku bertubi-tubi. Apa yng kamu lakkukan jika orang yang kamu cintai diolok-olok pertanyaan ang tidak akan terjawab benar, kecuali oleh mereka yg memahami hakikat cinta.
Bukankah Nabi SAW ketika hijrah ke Thaifmendapat perlakuan yang memilukan? Perlakuan orang-orang Thaif yang tidak bisa ditolerir. Mereka tak ubahnya keledai dungu, tuli saat kebenaran diserukan. Bahkan, batu-batu dan kotoran beterbangan melepari Nabi saw. Dengan ganasnya.
Pernakah mendengar kisah bahwa di sebuah pasar Madinah, telah lama dudu seorang Yahudi sambil mengemis, sedangkan matanya tak dapat melihat alias buta.orang itu sangat membenci islam. Ia selalu engiklankan sang pelopor penyebaran Islam, Muhammad dengan kata-kata kotor pemicu radikalisme Ummat Islam yang mendengarnya.perkataan yang memerahkan telinga, membakar wajah dan mencabik nurani. Setiap orang yang mndekatinya akan diberikan nasihat bahwa jiwa Muhammad saw. Adalah orang gila, pendusta dan ahli nujum.
Nai saw. Setiap hatri tahu ucapan-ucpan tk berarti it uterus menyebar. Sambil membawa makanan setiap pagi beliau mendatangi dan menyuakan ke dalam mulunya. Sampai kapan? Ampai beliau wafat.
Abu Bakar diberi tahu Aisya jika Nabi saw. Melakukan perbuatan itusetiap hari hingga Abu Bakar ingin menirunya.ketika tangan Abu Bakar menyuapkan makanan ke mulutnya, si Yhudi protes. Iaa tahu bahw orang yang selalu memberinya makan bukanah dirinya. Ia marah dan mebentak. Orang yang biasa mendatanginya, sebelum menyuap makanan, terleih dahulu dihaluskan dengan mulutna setelah itu dia berikan dengan mulutnya sendiri, orang itu begitu halus budinya.
Abu Bakar tidak mampu menahan tangis mendayu, kemudianmenceritakan bahwa orang mulia itu telah tada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah saw.
Pengemis kaget, seperti bayi yang kehilangan ibunya, merengek, menangis. Ia selalu menghina dan menfitnahnya, tapi nabi tidak pernah merasa marah sedkit pun. Ia begitu mulia.

metodologi penafsiran Khasanah Islam Klasik